Ketika Istiqomah dipertanyakan

BaPer (Bawa perubahan) itu merupakan salah satu akronim yang kini sedang buming di kalangan teman-teman perkuliahan yang ingin berhijrah. Ya berhijrah entah dari mana saya juga ada niatan ‘berhijrah’ sejak itu. Tahun 2013 tepatnya di bulan Ramadhan ‘niatan’ itu semakin menggebu dalam hati saya. Dimulai ingin berhijab di rumah (karena saya punya warung), sampai puncaknya saya ingin membatasi hubungan dengan lawan jenis. Pro kontra pada saat itu langsung menuju kepada saya, mulai dari orang tua, teman sepermainan, sampai teman-teman satu organisasi kegiatan di kampus. Namun pada saat itu semakin besar tantangan justru saya ingin berubah. Saya ingin berubah, dengan modal keyakinan yang Bapa saya ajarkan “Ndu, kamu boleh memilih, melakukan, bekerja apapun yang kamu inginkan asalkan semuanya dikerjakan dengan kesungguhan hati dan yang paling penting kamu benar-benar menyukai hal itu. Jangan melakukan sesuatu karena terpaksa. Kamu pernah gagal, belajarlah dari kegagalanmu itu ndu” :’) ( love you pa :*)

Lanjut ke proses hijrah di atas, entah apa yang sudah Allah rencanakan di tahun tersebut hingga saya mendapat banyak nikmat luar biasa. Dimulai dari restu kedua orang tua untuk berjilbab di rumah, dapat gratisan seminar (yang sebenarnya bayar 200ribu hehehe, tapi Alhamdulillah saya gratis), dapat ilmu banyak dari kakak-kakak tingkat dari mulai mba Ayu, mba Anna dll. Mereka orang-orang yang menuntun saya dalam berproses. Mereka selalu menghargai proses adiknya yang sedang belajar dengan sabar dan penuh kasih sayang. Saya yakin Allah lah yang telah hadirkan mereka untuk membantu mengenalNya dan belajar mencintaiNya. Dan saya ingat suatu hadist yang berbunyi “Allah
berfirman : Jika hamba-Ku mendekati-Ku satu jengkal maka Aku akan
mendekatinya satu
hasta, dan jika dia mendekati-Ku satu hasta Aku akan mendekatinya satu
depa. Jika dia datang pada-Ku dengan berjalan maka Aku akan
mendatanginya dengan berlari (HR. Bukhari – Hadits Qudsi)

Dan nikmatNya selalu hadir tanpa mampu saya bendung. Namun seiring berjalannya waktu entah kenapa saya mengalami penurunan ‘keinginan’ hijrah itu.. Kata mba Ayu begitulah iman, ketika kita sering memupuknya maka ia akan tumbuh subur namun sebaliknya jika ia jarang dipupuk maka kegersanganlah yang akan tumbuh. Dan itulah yang saya rasakan. Saya tidak ingin menyalahkan lingkungan tapi mungkin saya yang kurang tegas dalam bersosialisasi dengan lingkungan. Dalam berorganisasi orang-orang seperti saya kadang masih dianggap ‘aneh’. Dianggap suci dan alim tapi malah jadi bahan ejekan. Tapi begitulah asam manis berhijrah semua harus dilewati kalau kita ingin segera bertemu dengan nikmatNya kembali. Dan di akhir semester perkuliahan ini, saya ingin benar-benar memupuk iman itu. Iman yang telah gersang karena kurangnya pengetahuan agama. Kembali mencari media yang Allah siapkan sebagai sarana saya belajar.

Ketika istiqomah dipertanyakan, sejauh mana saya sudah mampu menjawabnya. Menjawab semuanya dengan pembuktian yang jujur bukan rekayasa karena ingin dianggap baik saja dihadapan makhlukNya. Penilaian makhlukNya itu relatif, namun penilaianNya lah yang benar dan kekal.

“Ya Allah ajarkan kami untuk terus mencintaiMu, mencintai orang-orang yang mencintaiMu, dan mencintai segala perbuatan yang membuat kami semakin dekat denganMu”aamiin.”

___selamat berhijrah juga teman-teman_____

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s