kematian adalah guru terbaik :’)

Tengah – tengah sepinya kos karena di tinggal penghuninya untuk pulang kampung, saya mendapat teguran terdasyat selama hidup di dunia ini. Sedang asik – asiknya berselancar di sosial media tiba – tiba menemukan video tentang sakaratul maut. Karena penasaran saya buka video tesebut, tak di sangka – sangka tubuh ini terasa tak bertulang lagi. Lumpuh total rasanya tubuh ini untuk kembali berdiri. Air mata saya juga tak mampu lagi terbendung di balik kelopak mata. Setelah menonton video tersebut saya merasa masih sangat – sangat belum siap jika kematian datang menjemput secara tiba – tiba. Namun bukankah kematian adalah salah satu cara Allah memanggil kita, jika saya memang mencintaiNya harusnya saya bahagia karena dengan kematian saya bisa bertemu denganNya tapi mengapa saya justru menangis dan takut menghadapinya ? Semua jawaban ada pada diri saya sendiri, saya merasa belum sempurna dalam mencintaiNya. 

Kembali ke rekaman video tersebut. Di dalam video tersebut memperlihatkan bagaimana orang yang awalnya sehat bugar tiba – tiba tersungkur dan tak bernyawa lagi. Dari yang sedang main bola, tinju, berdakwah, rapat, dan sholat semuanya tiba – tiba tersungkur tak berdaya ketika kematian menjemput secara tak terduga. Selain itu ada yang kecelakaan dan tubuhnya hancur lebur. Menonton video tersebut saya jadi ingat pernah mengikuti prosesi pemakaman tetangga di kampung. Ketika saya melihatnya dalam pikiran saya terbesit, jika saya meninggal nanti bagaimana keadaan saya ? apakah saya mampu menjawab dengan lancar seluruh pertanyaan malaikat di dalam kubur ?

Ketika kita meninggal tak ada lagi yang menemani di dalam kubur, hanya cacing dan belatung yang setia menemani kesendirian tersebut. Berdinding  dan beralaskan tanah diselimuti kain kafan yang membalut tubuh. Gelap gulita tak ada cahaya.  Satu pintu utama keluar sudah tertutup tanah dengan kuatnya. Ketika gelap melanda tak ada lagi lilin atau lampu yang menyinari. Bersyukurlah kita ketika mati listrik masih ada pengganti lampu untuk pengganti cahayanya yaitu lilin dan lain sebagainya. Segala perbuatan kita dipertanggungung jawabkan. Jika timbangan kebaikan kita lebih berat daripada keburukan beruntunglah kita. Tapi bagaimana kalau sebaliknya yang terjadi ? Allah adalah Sang Maha Penghitung yang baik, Dia tak akan keliru walaupun itu hanya sebesar biji padi bahkan tersembunyi dibawah gunung yang tinggi. Semua tak luput dari perhitungan. Mungkin diri kita sudah beranggapan jadi orang baik, tapi apakah niat kita sudah benar – benar karena Allah. Apakah kita berubah memantaskan diri ini karenaNya ? Saya berharap masih bisa melewati malam – malam selanjutnya setelah kejadian hari ini. Meluruskan kembali niat yang sempat berbelok dan menikung tajam . Semoga Allah memberi kesempatan untuk kembali men “charge iman ” dalam diri saya dan meridhoinya. 

Ya Allah… terimalah taubatku… Ya Allah… terimalah taubatku… Ya Allah… terimalah taubatku… :’)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s