..Aku tanpaMu butiran debu… :’)

Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu

potongan lagu diatas tentunya tak asing lagi di telinga kita kan ?Bahkan ada yang mungkin sudah bolak-balik muterin lagu “butiran debu” ini sampai telinganya lumutan 😀 ( saking menghayatinya ..hehehe )

Hari Minggu kemarin di kampusku tercinta diadakan acara Seminar Nasional. Acara yang membahas mengenai pendidikan karakter dan implikasinya di dalam kurikulum 2013 ini sangat luar biasa. Karena para narasumber yang hebat-hebat dan tentunya sangat mengispirasi para peserta seminar. Tapi disini penulis tidak membahas isi seminar kemarin ( isi seminar mungkin akan saya bahas di tulisan berikutnya.. ) 😀

Pada saat istirahat seminar nasional tiba-tiba salah satu dosen menyanyikan lagu yang pernah dinyanyikan oleh Rumor itu dengan penuh penghayatan. Membuat para peserta yang hadir terhipnotis semua. Termasuk saya.. hahaha

Ketika Pak dosen itu menyanyikan reff nya tiba-tiba ada sesuatu yang menyentuh hati saya. ….Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang. Aku tanpaMu butiran debu… 

“mu” dalam versi Rumor adalah untuk pujaan hatinya, dan “Mu” disini untuk pujaan hati saya juga yaitu Allah Sang Pemilik Hati 🙂

Saya akan merasa terpukul ketika terjatuh, merasa hidup ini tak ada gunanya lagi. Banyak dosa di muka bumi ini yang telah saya lakukan, padahal seharusnya saya tahu bahwa dunia ini hanya tempat singgah sementara sebelum kembali pulang ke rumah tujuan kita ( akhirat ). Dan kita semua tentu berharap bisa pulang ke akhirat tepatnya di surgaNya dengan selamat tanpa tersesat saat melangkah mengikuti peta yang telah digariskanNya. Namun begitulah saya, ketika datang masalah bertubi-tubi seakan semua yang saya cintai pergi. Saya lupa akan kehadiran sosok yang selalu menemani saya di dalam kondisi apapun. Dia yang selalu menjaga dan melindungi saya. Memberikan segala ketentuanNya karena Dia tahu saya mampu mengatasinya. Dia selalu hadir disetiap saat. Dia yang selalu menguatkan, menyadarkan dan mengajarkan kita agar selalu bersyukur ketika datang musibah. Agar tak mudah menyerah, bersungguh sungguh dalam mengerjakan amanat. Jangan takut pada selain Allah. Sungguh tanpaNya mungkin saya tak bisa seperti ini. Tanpa kehadiran Allah mungkin saya tidak tergerak pula untuk menulis dan belajar memperbaiki diri. Memanfaatkan sisa umur yang tak tahu kapan berakhirnya. Tak mungkin pula bertemu dan mengenal orang-orang hebat disekitar saya. Bagi saya mereka menjadi salah satu sarana Allah untuk membuktikan kehadiran cintaNya. Dia Maha Segala-galanya

Ya Allah aku tanpaMu benar-benar seperti butiran debu. Butiran debu yang tak tahu kemana arah angin membawanya.

Sungguh, aku tanpaMu butiran debu :’)Gambar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s